Berita Bola Terkini

Situs Berita Bola Terkini

Simbol dan Pengubah Sejarah Sevilla

Ada satu nama yang selalu disebut ketika Sevilla berhasil mengangkat trofi juara. Bahkan, ketika Sergio Ramos pulang ke Ramon Sanchez Pizjuan di bursa transfer musim panas tahun ini, nama itu kembali tersebut. Dia adalah Antonio Puerta.

Nama legendaris itu jadi salah satu alasan mengapa Sergio Ramos memutuskan pulang ke Sevilla setelah 18 tahun merantau. Dengan dibalut perasaan emosional yang mendalam, Ramos berkata, “Saya pikir ini adalah sebuah hutang kepada kakek saya, kepada ayah saya, kepada Sevillismo, kepada Puerta dan banyak hal yang sangat berarti.”

Nama Antonio Puerta memang begitu legendaris bagi Sevilla. Ia begitu sering disebut ketika Sevilla berhasil menorehkan cerita manis. Salah satunya saat Sevilla menjuarai Liga Europa 2020. Kala itu, Sevilla merayakan trofi juara dengan mengenakan kaus bergambar dua legenda Los Nervionenses yang sudah berpulang, yakni Jose Antonio Reyes dan Antonio Puerta.

Bahkan ketika Spanyol menggelar perayaan juara Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012, Sergio Ramos dan Jesus Navas mengenakan kaus bergambar Puerta disertai kalimat “siempre con nosotros” yang artinya “selalu bersama kami”. Cesc Fabregas juga pernah mengenakan kaus bertuliskan nama Puerta untuk menghormati mendiang Antonio Puerta.

Kematian Antonio Puerta

Puerta memang begitu spesial bagi sepak bola Spanyol, lebih khusus lagi bagi Sevilla. Kematiannya pada 28 Agustus 2007 begitu ditangisi dan jadi salah satu kehilangan terbesar bagi sepak bola Sevilla dan Spanyol.

Tiga hari sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa, Puerta menjadi starter ketika Sevilla menjamu Getafe di laga pembuka La Liga musim 2007/2008. Ketika laga memasuki menit ke-35, Puerta tiba-tiba jatuh pingsan di kotak penalti Sevilla, tepat di hadapan para pendukungnya.

Andres Palop dan Ivica Dragutinovic yang berada paling dekat dengannya langsung berlari menuju Puerta, diikuti oleh rekan setim lainnya dan staf medis yang langsung memastikan Puerta tak menelan lidahnya ketika ia mulai kehilangan kesadaran.

Beberapa saat kemudian, Puerta siuman dan mampu berjalan keluar lapangan. Namun, saat berjalan menuju ruang ganti, Puerta kembali pingsan. Setelah mendapat pertolongan resusitasi jantung atau CPR, tim dokter kemudian membawa Puerta menggunakan ambulans menuju ruang ICU rumah sakit Virgen del Rocio. Semua pemandangan dramatis ini terekam jelas dalam televisi, membuat kemenangan 4-1 Sevilla atas Getafe jadi terasa pahit.

Pada malam itu, media melaporkan kalau Antonio Puerta mengalami lima kali henti jantung dan pernapasan. Setelah 36 jam berada dalam kondisi koma, pada Selasa 28 Agustus 2007, tepat pada pukul 13.30 waktu setempat, Antonio Puerta dinyatakan meninggal dunia pada usia 22 tahun.

Dokter di rumah sakit Virgen del Rocio menjelaskan bahwa Antonio Puerta menderita penyakit ‘arrhythmogenic cardiomyopathy’, penyakit jantung turunan yang tidak dapat disembuhkan yang menyebabkan penderitanya mengalami serangan jantung berkepanjangan yang mengakibatkan kegagalan beberapa organ dan kerusakan otak yang tidak dapat dipulihkan.

Pada saat itu, pacar Puerta, Mar Roldan, sedang hamil besar dan kelak dua bulan kemudian melahirkan Aitor Antonio Puerta Roldan. Sebuah kisah yang makin menambah tragis kematian Antonio Puerta yang begitu ditangisi.

Seluruh Spanyol berduka saat itu. Bela sungkawa juga ditunjukkan AC Milan saat berhadapan dengan Sevilla di Piala Super Eropa 2007. Sebagai bentuk penghormatan, seluruh pemain mengenakan seragam bertuliskan “PUERTA” di bawah nomor punggung mereka.

Kematian Antonio Puerta juga tak hanya meninggalkan duka yang begitu mendalam, tetapi juga membuat rivalitas Sevilla dengan rival sekota mereka di “El Gran Derbi”, Real Betis, mereda.

Saat itu, tensi permusuhan antara dua klub Andalusia itu tengah mencapai puncaknya. Tak hanya di tingkat ultras atau penggemar saja yang sering tawuran, tetapi juga merembet hingga petinggi klub. Maklum saja, saat itu Sevilla dan Real Betis sama-sama dipimpin presiden kontroversial, yakni José María del Nido dan Manuel Ruiz de Lopera.

Namun, kematian tragis Antonio Puerta membuat permusuhan Sevilla dengan Real Betis sempat mereda. Gencatan senjata dilakukan kedua belah pihak, ditandai dengan Lopera dan Del Nido yang saling berpelukan dalam kondisi menangis.

Ketika peti jenazah Puerta tiba di Ramón Sánchez Pizjuán, para pemain Sevilla dan Betis juga datang untuk memberi penghormatan terakhir, termasuk pula puluhan ribu pendukung kedua tim yang meneteskan air mata mengantar kepergian Antonio Puerta.

Antonio Puerta: Simbol Akademi Sevilla

Pemain bernama lengkap Antonio José Puerta Pérez itu sepertinya memang sudah ditakdirkan menjadi Sevillistas sejak lahir. Ayahnya adalah mantan pemain Triana Balompie dan yang lebih penting lagi, Puerta lahir di distrik Nervion, di pusat kota Seville, Andalusia pada 26 November 1984. Konon jarak rumah Puerta dengan Estadio Ramón Sánchez Pizjuán amat sangat dekat.

Puerta sudah bergabung dengan Sevilla sejak berusia 9 tahun setelah lebih dulu menimba ilmu di akademi AD Nervion. Puerta benar-benar merangkak dari bawah dan terus berkembang di setiap tingkatan tim usia muda Sevilla. Inilah mengapa ia jadi simbol bagi akademi Sevilla.

Di generasinya, Antonio Puerta satu angkatan dengan Sergio Ramos, Jose Antonio Reyes, dan Jesus Navas. Bisa dibilang mereka ini tergolong dalam generasi emas Andalusia dan ketiganya adalah sahabat karib.

Oleh Manolo Jimenez, pelatihnya di tim cadangan Sevilla, Antonio Puerta dijuluki “seorang kapten tanpa ban kapten.” Meski namanya tak mencuat secepat Ramos, Reyes, atau Navas, tetapi Puerta adalah salah satu bakat paling menjanjikan saat itu.

Tak lama setelah mendapat panggilan timnas U-21 Spanyol, Puerta yang saat itu masih berusia 19 tahun mendapat kesempatan debut di tim utama Sevilla pada 21 Maret 2004 dalam pertandingan La Liga melawan Malaga. Puerta kemudian secara resmi dipromosikan dan menjadi anggota tim utama Sevilla pada musim panas 2005.

Antonio Puerta: Pengubah Sejarah Sevilla

Antonio Puerta memang seorang pemain yang berbakat. Posisi aslinya adalah bek kiri, tetapi dirinya juga nyaman dimainkan sebagai sayap kiri dalam formasi 4-4-2 Sevilla.

Di musim debutnya, Puerta berhasil mencetak 4 gol dan 1 asis dalam 29 pertandingan di La Liga dan UEFA Cup. Dan di antara 4 gol tersebut, 1 gol yang ia buat di laga semifinal UEFA Cup adalah gol yang membuat nama Antonio Puerta menjadi abadi dalam memori para penggemar Sevilla.

Kala itu, di musim 2005/2006, Sevilla bertemu Schalke di babak semifinal Piala UEFA. Setelah leg pertama di kandang Schalke berakhir 0-0, leg kedua yang digelar di Ramon Sanchez Pizjuan juga berakhir dengan skor 0-0 di waktu normal.

Laga pun dilanjutkan ke babak extra time. Di laga tersebut, Puerta yang baru masuk di menit ke-77 menggantikan Adriano Correia muncul jadi pahlawan Sevilla.

Di menit ke-100, Jesus Navas yang beroperasi di sisi kanan berhasil melepas umpan silang nan indah yang sukses membelah lini pertahanan Schalke. Di sisi yang berlawanan, Antonio Puerta berdiri bebas dan menyambut umpan tersebut dengan sebuah tendangan first time setengah voli yang berhasil menghujam jala gawang Schalke. Sebuah gol spektakuler yang membuat publik Ramon Sanchez Pizjuan bersorak-sorai.

Gol tersebut mengubah situasi dan akhirnya membuat pasukan Juande Ramos lolos ke partai final. Sevilla akhirnya keluar sebagai kampiun Piala UEFA 2006 setelah berhasil membantai Middlesbrough 4-0. Penampilan apik Puerta saat itu mengundang ketertarikan Arsenal, Manchester United, hingga Real Madrid. Namun, semua tawaran itu ditolak. Puerta tetap setia dengan Sevilla.

Trofi UEFA Cup 2006 adalah trofi Eropa pertama dalam sejarah Sevilla dan menjadi trofi mayor pertama Sevilla dalam 58 tahun. Lebih indah lagi, prestasi tersebut didapat saat Sevilla merayakan ulang tahun keseratusnya.

Setelah itu, pintu juara Sevilla menjadi terbuka. Dalam 15 bulan, mereka mengalami era keemasan dengan meraih dua trofi Piala UEFA, satu trofi Copa del Rey, satu Piala Super Eropa, dan satu Piala Super Spanyol.

Tak bisa dipungkiri kalau era keemasan tersebut bermula dari sepakan indah Antonio Puerta ke gawang Schalke. Maka di mata para Sevillistas, gol Puerta tersebut dijuluki “El gol que cambió nuestras vidas” yang artinya “gol yang mengubah nasib kita” dan sejak saat itu Puerta mendapat julukan “zurda de diamantes” yang artinya “si kaki kiri berlian”.

Kita semua tahu akhirnya. Bertahun-tahun kemudian, Sevilla kita kenal sebagai Raja Liga Europa. Sungguh tak terbantahkan bahwa Antonio Puerta adalah sosok yang telah mengubah sejarah Sevilla.

Sayangnya, Puerta, figur yang paling Sevilla di antara pemain lainnya, panutan bagi para pemain akademi, dan sosok yang paling layak untuk menikmati kesuksesan itu tak bisa menikmati hasilnya. Puerta lebih dulu berpulang, meninggalkan sebuah warisan berharga yang kini diteruskan oleh para penerusnya di Sevilla.

Antonio Puerta, Abadi di Sevilla

Setelah kematian Antonio Puerta, Sevilla berusaha memensiunkan jersey bernomor 16 peninggalan Puerta. Namun, karena terbentur aturan Liga Spanyol di mana klub wajib menggunakan nomor 1 hingga 25 untuk skuad reguler mereka, maka nomor punggung 16 peninggalan Puerta diproyeksikan bagi pemain lulusan akademi Sevilla. Untuk sementara ini, nomor tersebut tengah dipakai oleh Jesus Navas, sahabat karib Anonio Puerta.

Sevilla kemudian mengabadikan nama Antonio Puerta sebagai nama sekolah sepak bola mereka dan membangun patung Puerta di depan pintu masuk La Ciudad Deportiva, fasilitas olahraga milik Sevilla.

Sejak 2008, Sevilla juga menyelenggarakan Antonio Puerta Trophy. Tahun ini, pertandingan Antonio Puerta Trophy digelar bertepatan dengan pertandingan UEFA-CONMEBOL Challenge yang mempertemukan juara Liga Europa dengan Copa Sudamericana.

Sementara itu, hingga hari ini, para pendukung Sevilla masih meneriakkan chants Antonio Puerta di setiap menit ke-16 laga kandang yang digelar di Estadio Ramon Sánchez Pizjuán. Mereka belum merupakan sang pahlawan. Terbaru, sebelum menghadapi Girona pada 27 Agustus kemarin, para pendukung Sevilla menyempatkan berkunjung ke rumah Antonio Puerta yang membuat sang ayah tak kuasa menahan tangis.

Antonio Puerta memang sudah tiada. 28 Agustus kemarin sudah genap 16 tahun dirinya berpulang. Namun, Antonio Puerta akan tetap kekal abadi. Namanya akan terus disebut dalam setiap kesuksesan Sevilla yang diteruskan oleh para penerusnya.

Antonio Puerta; gone, but not forgotten!


Referensi: Sevilla, Eurosport, These Football Times, Bleacher, Mundo Deportivo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *