Berita Bola Terkini

Situs Berita Bola Terkini

Difitnah Polisi, Diasingkan Napoli, Kini Terdegradasi Bareng Sampdoria

Tatapan Fabio Quagliarella kosong. Ia tertunduk lesu menyaksikan timnya bertekuk lutut di hadapan Udinese. Le Zebrette menghempaskan Sampdoria lewat skor bulat 2-0. Kekalahan ini begitu menyedihkan bagi il Samp. Karena itu membuat tim yang lebih dari sedekade berada di Serie A harus rela turun kasta.

Percayalah! Seseorang yang sangat bersedih atas hasil ini adalah Fabio Quagliarella. Terdegradasi ke Serie B menambah daftar penderitaannya sebagai pesepakbola. Perjalanan hidup pria yang lahir di sebuah tempat dekat Kota Naples itu sebelumnya telah dipenuhi kenestapaan.

Pria yang kini berusia 40 itu pernah difitnah polisi. Quagliarella juga pernah disingkirkan dari Kota Naples. Penduduk Kota Naples yang hari ini sedang meluapkan kegembiraannya itu, nyatanya masuk dalam catatan menyedihkan karier Quagliarella. Bagaimana getirnya kisah Fabio Quagliarella?

Tahun 2009 Membela Napoli

Pria kelahiran 1983 itu adalah penduduk asli Kota Naples. Ia lahir di sebuah komune bernama Castellammare di Stabia, bagian dari kota metropolitan Naples di Italia Selatan. Lahir di Naples membuatnya sangat dekat dengan klub terbesar di sana, Napoli. Tidak mengherankan kalau Quagliarella sangat senang ketika memperoleh kesempatan berseragam il Partenopei.

Juni 2009, Quagliarella meneken kesepakatan dengan Napoli. Nilai kesepakatan itu dikabarkan menyentuh 18 juta euro atau Rp291 miliar kurs sekarang. Quagliarella akan berseragam Napoli selama lima tahun. Ia disambut penduduk Naples bak pahlawan baru yang terlahir kembali.

Sudah lama penduduk Naples menantikan sosok penting setelah Diego Maradona. Di Napoli, Quagliarella berkolaborasi dengan Ezequiel Lavezzi dan gelandang serang nyentrik yang pernah ada, Marek Hamsik. Awalnya, perjalanan Quagliarella di Napoli sangat menyenangkan.

Ia membantu tim itu lolos ke Liga Eropa musim 2010/11. Quagliarella juga mencetak 11 gol di musim pertamanya bersama Napoli. Ironis, segala dedikasinya seperti tidak berarti apa pun. Alih-alih bertahan lebih lama, atau paling tidak bertahan hingga kontraknya habis, Quagliarella justru meninggalkan Naples lebih cepat.

Pemain yang pernah membela Ascoli itu bahkan tidak mendapat kesempatan bermain di Liga Eropa. Sebab, pada musim 2010/11, ia tidak lagi berseragam Partenopei. Ia dicibir, dicaci maki, dianggap tidak ada oleh penduduk Naples serta ditendang oleh Aurelio De Laurentiis. Sialnya, itu hanya karena satu perkara yang tidak terbukti.

Quagliarella Difitnah

Quagliarella tidak pernah memprediksi hari-harinya di Kota Naples, tempat kelahirannya sendiri akan sangat sulit. Ia menjumpai dirinya sebagai korban fitnah tak berdasar oleh aparat penegak hukum. Persis ketika masih berstatus sebagai pemain Napoli, Quagliarella diperas oleh seorang oknum kepolisian.

Pemain yang pernah berseragam Torino itu difitnah sebagai seorang pedofil. Tidak hanya itu, fitnah yang datang juga menyebutnya bagian dari anggota kelompok mafia. Mula-mula memang tidak diketahui siapa yang memfitnahnya. Sebelum akhirnya terungkap, Quagliarella hidup di tengah teror.

Beberapa kali ia dikirimi foto-foto gadis di bawah umur yang tak memakai sehelai pakaian pun. Pengiriman foto tersebut diiringi dengan tuduhan bahwa Quagliarella adalah seorang pedofilia, karena meniduri gadis-gadis yang ada di foto. Melalui wawancara dengan Bleacher Report, Quagliarella mengenang kejadian itu yang terburuk sepanjang garis hidupnya.

Pada waktu itu, Quagliarella menyadari foto-foto yang dikirimkan padanya itu diunduh dari situs online. Hal itu menjadi semacam teror karena surat-surat yang berisi tudingan tak berdasar dan foto-foto tersebut dikirim kadang seminggu sekali, tak jarang ia juga menerimanya dua kali dalam sepekan.

Fitnah Itu Membuat Fans Napoli Meradang

Akibat tuduhan itu, Quagliarella menjadi sasaran para fans Napoli. Penggemar Napoli yang meradang karena termakan tuduhan tersebut, justru menambah kesengsaraan Quagliarella selama berdomisili di Naples. Tidak hanya kiriman tudingan yang menyasar padanya, tapi dari penggemar Napoli juga.

Saat tuduhan itu menjadi bahan pembicaraan, Quagliarella diperlakukan seperti penjahat. Setiap kali ia keluar rumah, ada saja tingkah para fans Napoli yang menyakitkan baginya. Setiap keluar dari rumah, Quagliarella pasti dihina, dicibir, direndahkan, dibuat seolah-olah iblis.

Dalam sebuah wawancara, Quagliarella mengakui bahwa ia sampai harus menyamar ketika keluar rumah lantaran kondisinya benar-benar mencekam waktu itu. Ia sempat berkeinginan untuk menghajar siapa saja yang menguntit dirinya. Namun, ia tahu kalau itu dilakukan, justru akan membahayakan keluarganya.

Ya sudah, ia serahkan saja pada pihak kepolisian. Lagi pula, Quagliarella juga mengenal aparat penegak hukum di Napoli. Sebagian dari mereka adalah penggemar Napoli yang bahkan pernah meminta tanda tangan dan kaos pada Quagliarella.

Performanya Menurun

Walau bagaimana, kasus itu sangat berdampak di kehidupan Quagliarella. Ia tidak hanya sibuk di dalam lapangan, tapi harus pula menyelesaikan urusan di luar sepak bola. Fokusnya pun terbelah. Buntutnya, penampilan Quagliarella di atas lapangan mengalami penurunan.

Pada waktu itu, Quagliarella sudah kehilangan fokus bermain sepak bola. Ia seperti tidak aman setiap kali bermain untuk Napoli. Mungkin ini karena penggemar sudah antipati padanya lantaran kasus tersebut. Ketakutan selalu menyergap hati dan pikiran Quagliarella. Sebab di mana pun berada, ia selalu merasa ada yang menguntit.

“Saya berlatih, tapi tidak melakukannya dengan ketenangan yang benar. Ini bukan masalah sehari-dua hari, tapi berlangsung berbulan-bulan. Itu membuatku lelah,” kata Quagliarella dikutip Bleacher Report.

Tuduhan itu dalam sekejap menyulap Quagliarella, dari yang semula dinantikan sebagai pahlawan menjadi sosok yang seolah-olah diasingkan oleh publik Naples. Ia bahkan tak tahan untuk meneteskan air mata. Quagliarella menangis, tapi bukan karena malu, melainkan karena penderitaannya dan ketidaktahuan siapa yang berbuat itu padanya.

Dipaksa Pergi dari Napoli

Waktu kondisi mental sedang terganggu, Napoli justru menjual Quagliarella. Presiden Aurelio de Laurentiis dikabarkan menerima surat anonim yang menyebut Quagliarella menggunakan kokain. Surat itu juga menuduh bahwa kediaman Quagliarella menjadi markas organisasi kriminal berbahaya, Camorra.

De Laurentiis pun melepas Quagliarella ke Juventus pada tahun 2010. Kepergiannya ke Juventus tidak sepenuhnya mulus. Quagliarella, oleh para penggemar Napoli malah mendapat tuduhan baru lagi. Fans Napoli menyebut bahwa Quagliarella adalah striker yang gila duit karena pindah ke Juventus.

“Saya dibenci dan dihakimi pengkhianat karena situasi itu (dijual dari Napoli ke Juventus),” katanya.

Kariernya Berantakan

Seiring waktu, perkara itu pun terkuak. Pelakunya adalah seorang oknum kepolisian. Dilansir Football Italia, nama pelakunya adalah Raffaele Piccolo. Pelakunya akhirnya dipenjara lima tahun. Kelak, hubungan Quagliarella dengan penggemar Napoli mulai membaik. Kala kembali lagi ke San Paolo, markas Napoli dengan status berbeda, para penggemar Napoli memohon maaf pada Quagliarella.

Mereka membentangkan spanduk yang kurang lebih berbunyi, “Fabio sayang, maafkan kami”. Permintaan maaf itu terasa amat sangat sentimentil. Tidak ada setitik pun di hati Quagliarella untuk membenci Napoli. Tapi itu tidak berpengaruh apa pun dalam kariernya. Setelah tak di Napoli karena tuduhan itu, karier Quagliarella berantakan.

Ia sempat kembali ke Torino, rumah kedua Quagliarella yang bersedia memeluknya. Quagliarella sempat dipinjamkan ke Sampdoria, sampai akhirnya permanen di sana. Namun, namanya tenggelam. Setelah dikontrak Sampdoria tahun 2016, ia memutuskan untuk bersetia dengan klub itu.

Usianya sudah kepala empat, tapi Quagliarella menolak pensiun. Sayangnya, penolakannya untuk gantung sepatu malah membuatnya merasakan penderitaan sekali lagi. Sang kapten gagal mempertahankan timnya lebih lama di Serie A. Sudahlah Quagliarella, barangkali ini saatnya ente gantung sepatu.

Sumber: BR1, BR2, FourFourTwo, Marca, Goal, PlanetFootball, DailyMail, Marca, Football-Italia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *